S3 Kok Merasa Salah Jurusan!

| 8
Bismillahirrahmaanirrahiim 
Pertama-tama ingin menyapa dulu nih, apa kabar semua? Hehe...maafkan rumah yang sempat berdebu ini ya, semoga si-empunya sadar biar tiap hari bisa nyapu lewat kata-kata biar ga tebel debunya..hehe.. 

Ohya, ingin sharing  nih sama sahabat semuanya. Disuatu hari (tanpa sengaja kita bertemu) yang cerah, disebuah ruangan TMB 1, mahasiswa-mahasiswa sedang memecahkan sebuah soal dari dosennya. Termasuk saya, mondar mandir lihat pekerjaan yang lainnya, karena jujur saya bingung bahkan mendekati “ini apaan sih”.hehe..polos.. Kemudian keluhan mulai terucap dari satu orang, lalu disusul orang-orang yang lain. Nah, ditengah keluhan, celetuklah satu orang rekan saya dari kejauhan dengan santainya bilang “S3 kok ngerasa salah jurusan”. Eh..jleb..tapi sepertinya yang sadar dan mendengar hanya saya, yang lainnya masih terbuai dengan rentetan diferensial yang mulai menyita. 

Singkat kata, satu kalimat itu mampu membius saya, dan tergiang-ngiang disepanjang jalan bahkan sampai saya menuliskan ini, padahal sudah hampir satu bulan yang lalu. Kemudian saya berpikir, iya ya, kok bisa baru S3 merasa salah jurusan, eh ini salah jurusan apa salah... #nunjukdirisendiri. 

Mimpi sejak dulu saat kuliah di UB...semoga Allah ridho

Jadi seperti ini, contohnya saya sendiri, saya belajar di tingkat S1 di jurusan Teknik Pengairan, kemudian melalui program PMDSU, saya belajar di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, serta lanjutannya adalah Prodi Ilmu Keteknikan Pertanian, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem. Ada yang aneh? Dari basicnya sipil basah ke arah teknik pertanian.  Terkadang saya banyak bertanya kepada diri, sebenarnya saya siap tidak sih kuliah pascasarjana ini, sebab pembahasannya terkadang membuat saya tak mengerti. Contohnya ketika diajar mengenai desain mesin pertanian, biasanya hanya melihat traktor di sawah, tapi dimata kuliah ini kita diminta mendesain traktor, (bagi saya) ini sirine nyala, alias saya harus mempelajari dari awal banget yang ga ada sama sekali disinggung ketika S1 maupun ketika kuliah di SIL. Nah terus, apakah ini yang dimaksud salah jurusan? Sebenarnya ini ada kaitannya dengan linearitas jurusan, namun tentang linearitas ini kita tunda dulu in syaa Allah dipostingan selanjutnya ya. 

Awalnya harus diakui sempat ngerasa “Iya kayanya ini salah jurusan deh”, tapi setelah menonton kembali video S1, jadi sadar lagi, sebenarnya kurang bersyukur plus tidak menyadari kalau dulu yang memilih jurusan ini adalah saya sendiri. Setelah dipikir-pikir juga, ya tidak lah, kan S2 dan S3 itu pilihan masing-masing, tidak seperti S1 yang kita kadang milihnya random yang penting dapat Universitasnya dulu. S2 dan S3 itu harusnya lahir dari keinginan pribadi yang telah disesuaikan dengan passion dan minat masing-masing, khususnya passion mengenai bidang yang akan ditekuni. 

Pada awal pendaftaran program S2 dan S3 juga tidak hanya menyerahkan administrasi ijazah kelulusan, transkrip, namun juga menyerahkan rencana studi dan sinopsis penelitian. Ini artinya, disadari atau tidak S2 dan S3 ini telah kita pikirkan matang-matang sebelumnya, jadi kalau ada alasan salah jurusan, perlu tanya ke diri sendiri lagi, iya salah jurusan atau kitanya yang awalnya hanya ikut-ikutan? #notestoself 

Nah, sekarang kalau sudah menjalani sampai tahap ini, pilihannya adalah tekuni atau mundur, tidak ada pilihan setengah-setengah. Pesan saya untuk semua yang ingin melanjutkan sekolah pascasarjana, rencanakan matang-matang rencana studinya, jangan hanya formalitas ingin S2 atau S3. Berdasarkan perjalanan hampir 1,3 tahun menjalani kehidupan pascasarjana, tanggung jawabnya besar, kalau beasiswa pasti ada tuntutan IPK sekian-sekian harus ini itu. Kalau kita melanjutkan sekolah pascasarjana hanya “asal”, takutnya ketika dihantam masalah selama perjalanan kuliah kita bakal roboh, pusing, stres sampai bisa-bisa struk dini karena beban yang terlalu berat. Tapi tenang aja, kalau sudah merasa sulit banget, Allah sudah janji kok, setelah kesulitan ada kemudahan (QS.Al Insyirah : 5&6) ^^

Selain persiapan yang matang, pelajari juga karateristik program studi di Univeritas tujuan, pahami betul sehingga ketika kita sudah masuk kedalamnya, sudah tiada lagi kebimbangan, minimal kita sudah tahu sebelumnya. Terutama yang nanti mengambil program PMDSU, pelajari program studi S2 dan S3 yang akan di ambil, sesuai minat atau tidak. Sekali lagi saran saya (pribadi), jangan hanya mengikuti “yang penting dapat beasiswa”, karena riset-riset yang akan kita lakukan nantinya harus berimplikasi pada perkembangan ilmu bidang yang kita tekuni (Lukito, 2013), kalau kitanya tiba-tiba tidak suka dengan jurusannya, bagaimana kita bisa melakukan riset yang tulus dari hati dan memberikan implikasi? Yang ada hanya keterpaksaan dan formalitas. Janganlah, sayang banget kalau kuliah hanya formalitas. #notestoselfagain 

Tulisan ini juga sebagai reminder buat diri saya pribadi, khususnya juga nanti ketika lagi down, saya bisa membacanya kembali, sama halnya ketika dulu saya membuat video “motivasi mahasiswa salah jurusan” yang akhirnya saya kembali mendapatkan semangat dari video tersebut. Jadi intinya, dari kalimat rekan sekelas saya tersebut tentang S3 kok merasa salah jurusan, sebenarnya balik lagi ke pribadi kita masing-masing, salah jurusan atau tidak itu seperti persepsi, kalaupun kita merasa kurang tepat dengan jurusan kita, ya kita sendiri yang harus menentukan sikap untuk kebaikan kedepannya.

Akhir kata, sebelum saya ngelantur karena sudah hampir jam 3 pagi, ada satu pesan dari Imam Syafi’i mengenai menuntut ilmu yang saya tempel ditembok kata-katanya, “Wahai saudaraku, kalian tidak akan menguasai ilmu kecuali dengan enam syarat, (1) Kecerdasan (2) Bersemangat (3) Kesungguhan (4) Bekal (Investasi) (5) Bersama pembimbing (6) Waktu yang lama”.

Ohya ini versi bahasanya banyak, tapi yang saya tuliskan seperti itu. Bahwa bekal menuntut ilmu adalah kecerdasan yang telah Allah berikan kepada setiap orang, baik yang sudah memilikinya tinggal menguatkan, bagi yang masih kurang hendaknya perlu dilatih berulang-ulang, karena terkadang kecerdasan itu perlu diusahakan. Kemudian dalam menuntut ilmu kita harus semangat karena Allah SWT. Kalau kata senior di UB, Mas ABL, semangat itu tergantung kita memaknai sebuah tujuan. Kalau kita tahu betapa berharganya sebuah ilmu, pastilah kita semangat mendapatkannya. 

Disudut tembok semangat...semangatilah dirimu dengan tulisan positif ^^

Ketiga adalah bersungguh-sungguh, sudah jelas lah ya, kalau menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh, tidak main-main dan harusnya menjauhi kemalasan (problem satu ini saya juga masih terus belajar menghadapinya). Bersungguh-sungguh juga salah satu kunci menghadapi godaan hawa nafsu ketika menuntut ilmu, salah satunya dengan gigih dan sabar. Investasi, yang dimaksud adalah terkadang kita harus mengeluarkan biaya dan harta untuk menuntut ilmu, Jer basuki mawa beya kalau orang Jawa Timur menyebutnya.

Bersama guru pembimbing itu pasti, agar ada yang mengarahkan, mengingatkan kita, serta bisa diajak berdiskusi untuk menuju ilmu yang benar dan agar tidak terhindar dari pemahaman yang salah. Yang terakhir adalah membutuhkan waktu yang lama, bahwasanya menuntut ilmu itu tidak hanya sejam-dua jam, sehari-dua hari, tapi butuh waktu yang lebih. Sungguh, butuh ikhtiar dan kesabaran bertahun-tahun untuk menggapai sebuah ilmu. Contoh kecilnya kita butuh waktu 3 tahun lebih, itupun belum semuanya kita paham loh. Malah bisa jadi kita menuntut ilmu seumur hidup, sampai Allah memanggil kita kembali. Nasehat Imam Syafi’i itu salah satu penyemangat saya dalam menuntut ilmu dan menyadarkan saya kalau saya lagi khilaf atau menyerah dalam prosesnya. 

Selamat berproses belajar melalui jalur akademik, semoga selalu dilimpahi ridho Allah SWT, selalu iringi hari-hari kita dengan bersyukur ^^ 

Ohya, mohon doanya ya kawan,semoga saya dan kawan-kawan PMDSU khususnya batch 2 dapat menyelesaikan amanah studi ini sebelum tahun 2019. Semoga Allah juga memudahkan urusan kawan-kawan semua. Terima kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat ^^ 
*** 
Puri Fikriyyah, 15 Oktober 2016 
Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

8 komentar:

Imron Wong said...

Aneh jugasih kalau S3 malah salah jurusan hehe

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mas Imron : hehe iya bener mas, aneh bin ajaib... tapi ya tergantung balik lagi ke pribadinya mas ^^

Riski Ringan said...

Aamiin, semoga kuliah S3nya lancar yaa.. ^^

ana ummu fitry said...

iri melihat mereka yg bisa kuliah tinggi...semoga nti anak sy bisa kuliah tinggi..btw..sukses ya mba

Dyan Eka said...

Loh mbak vhe udah S3?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Aamiin aamiin kak Riski ^^

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Aamiin mb ana..sukses buat mbak dan keluarga juga yaa.. Semoga putra putrinya mbak jg bs meraih cita2nya yg diridhoi Allah ^^

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Mb dyan..percobaan mba.semoga lolos terus syaratnya..hhe..mohon doanya mbk..sukses juga buar mbak dyan

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^