Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (1/2)

| 19
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ada saatnya kita akan menyadari bahwa yang kita cari ada didekat kita sendiri  [VAKD, 2016]

26.03.2016. Aku ingat betul pertanyaan teman di kelas ketika usai kuliah, “akhir pekan ini mau kemana Vit?”, kemudian aku jawab “Kosan Mbak, capek, mau istirahat”. Waktu aku menjawab seperti itu, teman tak percaya gara-gara selama bulan maret, tiap weekend atau hari libur pasti ada saja trip, walaupun beda yang mengajak. Begitu juga sabtu pagi kemarin, ternyata tidak jadi istirahat di Kos, setelah hari jumatnya menghabiskan waktu bersama kawan-kawan WRE Jabodetabek sampai malam.

Malamnya masih di Jakarta meet up dengan WRE Jabodetabek

Sabtu pagi, dengan koordinasi singkat bersama Dik Riski, Forsmawi Bogor, akhirnya kami berangkat untuk ke Puncak Batu Roti atau Puncak Roti, Gunung Roti yang terletak masih satu kawasan Bukit Kapur. Alhamdulillah tanpa basa-basi langsung eksekusi. Sudah mencoba mengajak beberapa anggota Forsmawi lainnya, namun mereka ada kegiatan di Kampus. Akhirnya tetap berangkatlah walaupun berdua.


Mungkin Puncak Batu Roti ini belum terlalu terkenal dimata netizen. Soalnya aku taunya dari Bang Heri yang waktu itu ngajak naik, tapi sayang malamnya hujan jadi aku tak berani. Kemudian aku search di internet yang muncul hanya satu artikel saja. Berawal dari rasa penasaran itulah akhirnya perjalanan pagi kemarin terlaksana. Kami bertemu di depan BNI IPB jam setengah 8 dan langsung naik angkot kearah Leuwiliang. Didalam angkot ada seorang ibu dan beliau bertanya:

“mau naik gunung Teh?”
“Iya bu, ke Puncak Roti” jawabku

Waktu Bang Heri naik beberapa pekan lalu...

Kemudian ibu tersebut bercerita bahwa beliau-lah yang berjualan diatas, tapi hari sabtu tersebut libur jualan dulu karena mengantar anaknya sekolah. Kata Ibunya malam jumat banyak yang camping, diantaranya ada yang dari Pademangan 9 orang. Sepanjang jalan kami berbincang, pun Dik Riski yang menanyakan jalur. Ibu tersebut menyarankan lewat jalur terjal karena lebih cepat, sebab yang jalur dibuat baru jaraknya 3x lipat katanya. Ok, penasaranpun bertambah. Setelah ibu tersebut turun dari angkot, kamipun turun dari angkot.

Petunjuk Arah
Kalau start dari IPB, naik angkot jurusan Leuwiliang turun depan Indomaret Cikampak atau pertigaan kearah Gunung Bunder. Patokannya didepan pertigaan ada Alfamart, disamping Indomaret ada RM.Padang Harapan Bundo (jika belum berubah ya). Ongkos angkotnya hanya 3500. Jika start dari non-IPB, bisa naik angkot yang kearah IPB khususnya ke Leuwiliang warna angkotnya biru.



Ini Indomaret Cikampak dan RM.Padang Harapan Bundo

Sesampainya di Indomaret Cikampak, kamipun memutuskan makan pagi terlebih dahulu di RM.Padang Harapan Bundo. Ya, memang naik Puncak Batu Roti ini kami santai, sebab sabtu tersebut kami tak ada acara di Kampus. Hanya ada tumpukan tugas kuliah yang sudah tersentuh namun dihadang jenuh, tapi ke alam dahulu untuk menghilangkan peluh.

Jalan masuk ke Puncak Batu Rotinya ada di seberang RM.Padang Harapan Bundo, lurus aja mengikuti jalan hingga bertemu sebuah makam. Nah dari makam itulah terlihat puncak Gunung Rotinya dan terlihat ada monyet bertengger diatas batu tertinggi tersebut. Hmmmm....jadi teringat lagi puncak kehidupan pertama, mati. Seperti kisah Rob Hall yang meninggal di Mt.Everest karena hipotermia, padahal beliau sudah sering mendaki Mt.Everest, pun Yasuko yang di film Everest, meninggal di Mt.Everest setelah menggenapkan seven summits. Pun masih banyak contoh orang yang meninggal sesuai dengan kesukaannya. Ya Allah, sejenak berdoa, matikanlah aku dan seluruh pembaca blog ini dalam keadaan yang Engkau ridhoi. Jauhkanlah kami dari siksa api neraka :’(

Puncak kehidupan dan Puncak Batu Roti

Ok, lanjut setelah makam akan kita temui kebun jati. Ini mirip seperti startnya Puncak Galau, gunung kapur Ciampea. Ceritanya ada di Puncak Galau, Bukit Kapur Ciampea

Jalur
Kebun jatinya bersih dan tenang sekali, ada satu warung disana dan lengkap dengan 2 anjing penjaga yang sepertinya sudah jinak. Jika membawa motor maka parkirnya di depan warung ini. Setelah menaiki undakan tanah, kami sampai di pos bawah.
  
Warung di Kebun Jati



Undakan menuju basecamp

Di Pos tersebut ada beberapa saung, ada seorang Bapak yang terlihat sedang membersihkan lingkungan sekitar saung. Kamipun ijin naik dan membayar retribusi 5000/orang. Kamipun juga diberitahu ada 2 jalur serta batas jangkauannya hanya sampai di Goa AC.

“Yang lewat sini banyak pemandangannya Teh, kalau lewat sana terjal tapi cepet sampai” kata Bapak tersebut.

Pos basecamp

Sedikit berdiskusi dengan Dik Riski, akhirnya kami memutuskan untuk naik lewat jalur banyak pemandangan, dan turun lewat jalur terjal. Biar adil.hehe...hidup ini memang selalu dihadapkan dengan beberapa pilihan ya, tergantung bagaimana kita memutuskannya, dan semua pilihan ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.





Selamat memulai perjalanan ke Puncak Batu Roti...

Sambil menikmati pemandangan kami terus berjalan. Disini kembali aku ulang, jika dalam perjalanan aku istirahat , Dik Riski lanjut saja, karena aku sadar diri tentang tubuh ini. Pasti tau sebabnya kalau sering baca cerita di blog ini. Alhamdulillah, Dik Riski memahami. Memang sepanjang perjalanan naik pemandangannya keren, Maha Kuasa Allah yang telah menganugerahkan alam yang indah untuk Indonesia.

Kiranya sekitar 10 menitan berjalan kami menemui batu besar. Kami kira masih lanjut perjalanan ternyata itulah Puncaknya, tapi harus naik batu besar tersebut. Nah, untuk terakhir ini haruslah sangat berhati-hati, karena untuk sampai Puncaknya harus semi merayap di batu. Ingat, banyak jurang dan rawan. Jaga keselamatan ya, jika dirasa sangat membayakan diri, jangan naik, cukup dibawahnya batu-batu sudah banyak view menarik.

Tanjakan batu terakhir..hati-hati..

Tanjakan terakhir dilihat dari atas

Alhamdulillah, bisa naik, dan meski ditutup kabut karena hujan semalam, ciptaan Allah tetap sangatlah indah. Viewnya bebas, termasuk bisa melihat aktivitas galian C untuk pengurukan jalan yang ada disisi gunung kapur. Kalau sedang beruntung, jejeran gunung Halimun-Salak, Gede-Pangrango akan kelihatan dari sini. Jadi saran saja lain kali kalau memang bisa ditunda, jangan kesana pas kabut.hehe...
  
Alhamdulillah atas ijin Allah...

Tetap indah meski kabut...


Salah 2 dari anggota Forsmawi kabur sejenak..


Alhamdulillah diatas tidak ramai, bisa bebas. Lah hanya berdua, sampai akhirnya da 3 siswa SMP menyusul. Kamipun sarapan bersama, yey...niatnya nunggu sampai kabut pergi tapi ditunggu sampai jam 10 tetap masih kabut, akhirnya kami turun ke saung, tempat ibu yang di angkot tadi berjualan. Setelah aku dan Dik Riski turun ke saung, ada banyak anak SD datang. Hmmm....aku dulu waktu SD belum main ke gunung. Kenalnya baru SMA pas ada acara organisasi, naiknya baru kuliah.hehe
  
Bisa dipakai untuk ngecamp


Aku dan Dik Riski turun ke saung dan di saung itu kami membicarakan perihal kuliah, kerja praktik dan apapun yang berkaitan dengan akademik. Disela kami berbincang kami ingat ada monyet diatas batu saat kami lihat dari bawah, dan beberapa saat kemudian dari balik batu muncullah seekor monyet dan ia mendekat. Jujur, lihat monyet ingat seseorang, eh sesuatu...Kamipun makan richeese dan roti bersama. Kemudian saat aku memasukkan kamera ke tas sepertinya monyet ini penasaran. Kami merasa akan ada banyak monyet yang datang dan kami memutuskan turun saja. Benar saja, baru beberapa langkah, saung itu dikuasai monyet, ada lebih dari 8 ekor monyet kalau tidak salah hitung.

Makan roti sama monyet di Puncak Roti

Kamipun turun lewat jalur terjal. Ohya, kami memang sengaja tidak ke goa AC, jadi kami langsung turun. Menurut Bapak penjaga, Goa AC ditempuh 20 menitan dari saung Puncak Batu Roti, kearah kanan. Goanya sedalam 26 meter, namun pada kedalaman 4 meter sudah dapat menikmati karya Allah yang luar biasa. Bawa peralatan ya kalau mau turun, atau minta tolong diantarkan Bapak penjaganya.
Sisi puncak dengan view galian C di Ciampea

Mengenai jalur terjal, ternyata memang lumayan menguras tenaga kalau berangkat lewat jalur terjal. 11-12 sama trek Puncak Galau, tapi aku dan Dik Riski sepakat bahwa treknya masih mudah Puncak Batu Roti daripada Galau, lebih tinggi Puncak Galau juga.

Nah, bagaimana proses turun? Tunggu di cerita selanjutnya ya, sekarang bernafas dulu.hehe...

Next cerita selanjutnya ada di Duo-hiking ke Puncak Batu Roti, Bogor (2/2)
***
Puri Fikriyyah, 27 Maret 2016


Vita Ayu Kusuma Dewi
share on facebook

19 comments:

Budy TravellingAddict said...

Kapan ya bisa muncak begitu :(

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

diluangkan waktunya bang :)

Fadhilah Hilmi said...

Wih bagus mbak, kemaren tgl 17 saya abis dari puncak batu roti juga, cuacanya cerah dan gak ada kabut, bener2 keren masyaallah

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Alhamdulillah ya kak dapat viewnya pasti bagus banget... Tapi rame bgt yak 17an.hehe alhamdulillah dapat menikmati... keren banget ciptaan Allah

Atika Noviyanti said...

Assakamualaikum...salam kenal mba 😊 mau tanya yaa..untuk sampe ke camp area di bukit roti itu,apa harus lewatin jalur pendakian yg cukup ekstrim? Suami ada rencana ke bukit roti dan bawa anak kami umur 5 tahun. Saya masih pikarpikir bakal kasi ijin atau enggak 😁

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Wa'alaykumsalam wr.wbga mbak kalau ke campnya aja ddket ama parkiran. Kalaupun sampai atas menurut saya gpp..trekingnya singkat haNya 12 menitab mbak..recomended kok :)

Atika Noviyanti said...

Oh gitu ya..sebenernya sy juga diajak. Plus anak kedua umur 2 tahun. Bisa kali yaa emakemak yg seumur-umur blom pernah naik gunung ini coba ke puncak roti? Plus bawa duo krucils. Slama ini paling mentok ke curug aja sih. Hiking beneran blom pernah. Hahaaa ...

Makanya ini lagi searching sanasini tentang bukit roti. Tapi gak banyak ketemu review nya 😁

Atika Noviyanti said...

Oh gitu ya..sebenernya sy juga diajak. Plus anak kedua umur 2 tahun. Bisa kali yaa emakemak yg seumur-umur blom pernah naik gunung ini coba ke puncak roti? Plus bawa duo krucils. Slama ini paling mentok ke curug aja sih. Hiking beneran blom pernah. Hahaaa ...

Makanya ini lagi searching sanasini tentang bukit roti. Tapi gak banyak ketemu review nya 😁

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

in syaa Allah sangat bisa, ibu saya usia diatas 50 juga alhamdulillah bisa naik :)

Atika Noviyanti said...

Okedeh mba. Makasi banyak infonya yaa 😊

Atika Noviyanti said...

Okedeh mba. Makasi banyak infonya yaa 😊

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Kak Atika, sama2 kak :)

Septian Bayu Pamungkas said...

Mengenai peralatan, bawa apa aja ya kak? Apakah sama seperti naik gunung2 tinggi atau bawa tas kecil saja cukup?

Septian Bayu Pamungkas said...

Untuk alat2 yg dibawa apa aja kak? Apakah seperti naik gunung2 tinggi atau cukup bawa tas kecil saja?

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Septian Bayu : Task kecil cukup kak trackingnya bentaran aja, dan kalau butuh logistik dekat pintu masukny ada indomaret :) tapi yang penting minumnya ja

Puncak roti said...

Puncak roti walaupun terbilang pendek sunrise nya enggak kalah sama gunung-gunung tinggi di Jawa barat lainnya. Keren Poko NY. Monyet NY juga lucu''

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

Puncak Roti : benar banget kaka ^^

Septian Bayu Pamungkas said...

Oke makasih kak atas infonya

Vita Ayu Kusuma Dewi said...

sama-sama kak :)

Post a Comment

Komentar dimoderasi, yuk sambung silaturahim, saya akan langsung berkunjung balik ke sahabat semua ^^