Mengeja Hikmah "Terpuruk"

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Semua bermula ketika Bapak kembali ke pangkuan-Nya. Rasanya semua berubah, yang awalnya baik-baik saja menjadi "ada apa-apa", lalu sayapun bukan tipe orang yang mengutarakan jadilah semua terpendam, dinikmati sendiri dan dirasakan sakitnya sendiri. Salah satu momen yang saya anggap "terpuruk" adalah kehilangan kepercayaan dan datangnya hinaan serta cacian kala itu. 

Singkat cerita, saat kuliah di Malang, saya memiliki teman yang sudah saya anggap sahabat. Satu tahun berteman ternyata dia menghilang bersama tanggung jawab peminjaman yang belum diselesaikan. Singkat cerita, bersamaan dengan itu fitnah datang melalui kabar-kabar yang berhembus di lingkungan tentang saya, komentar negatif di blog saya dengan kata-kata a**ing, t**k dan sepantarannya, serta sms teror yang intinya saya jadi penyebab abcd, intinya mah ke arah mengatakan saya munafik. Sedih, sedih banget kala itu, rasanya mau cerita ke sahabat juga tak tega, apalagi orang tua, tak akan pernah saya ceritakan apa yang membuat saya "merasa sakit". Biarlah saya tanggung sendiri kesakitan yang mungkin saya sendiri penyebabnya. 

Dalam masa itu diperkeruh dengan ingatan saya saat SMA, selepas saya berniat hijrah, ketika itu saya di maki di tengah lapangan oleh seseorang. Ah...jadilah ingatan itu memperburuk suasana. Mana saat itu sedang semester hectic. Kondisi ini akhirnya berpengaruh pada sahabat saya yang lain.

Saya butuh waktu agak lama untuk menenangkan diri, saya menjalani hari seperti biasa dengan masih membawa sampah emosi. Lalu, perlahan saya tersadarkan apa ada yang salah dengan saya akhir-akhir itu, atau saya sombong, dan berbagai muhasabah lain tentang diri. Sayapun memilih tak berkomunikasi dengan orang-orang yang saya anggap justru akan membuat suasana semakin memanas. Jadilah, saat itu hampir sayapun tak bisa mempercayai siapapun, termasuk sahabat sendiri.

Kala itu saya bisa kembali ceria dan memaafkan dengan hanya percaya kepada-Nya, tak lagi mengharap iba dari manusia. Lalu, sembari mengobati luka teror, hinaan, cacian itu dengan memperbaiki sikap yang menurut saya kurang tepat. Pun saat itu Allah hadirkan sahabat-sahabat dalam satu lingkaran majelis ilmu-Nya yang senantiasa memegang erat. Allah bantu saya menutup apa-apa yang membuat saya kembali merasa terpuruk. Saya berusaha keras mengembalikan kepercayaan diri yang terasa terenggut oleh caci maki dan kabar yang beredar tentang saya. Semua terasa sulit karena tak ada yang bisa dijadikan tempat cerita, dan memang sayanya malas lagi untuk bercerita, mungkin yang akan sahabat saya bilang adalah "sabar", ketika itu. 

Namun, dari usaha bangkit "sendiri" dan kepercayaan kepada manusia yang hilang itulah sayapun tersadar akan sesuatu yang besar dan tak ternilai harganya daripada manusia. Kekuatan dari-Nya, iya, Dia adalah satu-satunya tak pernah meninggalkan, menerima segala keluh kesah saya kapanpun saya mau, tak membuat saya kecewa, selalu membuat saya bahagia kala mengingat apa-apa yang telah dianugerahkan-Nya. Ialah Allah, yang akhirnya saya tersadar penuh kala itu bahwa Allah-lah tang tak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam segala gelisah susah yang di rasa. 

Lalu dalam sebuah firman-Nya saya dapati bahwa Ia tak akan membebani hamba-Nya diluar kesanggupan hamba-Nya. Ia, benar memang. Untuk menguatkan bangkit saya kala itu, saya lebih banyak berinteraksi dengan petugas kampus, lebih banyak "nongrong" di penjual sekitar kampus hanya untuk mendengarkan kisah-kisah mereka. Ada yang bercerita tentang dagangannya, ada yang bercerita tentang anaknya, bagaimana kondisi ekonomi dan ragam cerita lainnya. Satu hal yang saya dapat tarik kesimpulan mengapa mereka tetap ceria meski ada banyak "tanggunggan rasa", sebab mereka bersyukur terhadap apa-apa yang menimpa dirinya.

"Seorang muslim itu apabila diberikan nikmat ia bersyukur, apabila ditimpa kesusahan ia bersabar" begitulah penggalan salah satu kajian yang saya dapat dari proses bangkit. Satu persatu obat yang Allah berikan itu menjadi amunisi yang kuat saat saya menghadapi hal serupa dikemudian hari. Sejujurnya, saat itu saya belum sepenuhnya memaafkan kejadian itu, dan selang 4 tahunan dari kejadian itu saya baru benar-benar merasa plong atau menerima kejadian tersebut. 


Bercerita seperti ini misalnya, ini adalah bentuk saya telah menerima apa-apa yang menjadikan saya sakit saat itu. Sebelumnya saya masih memendam erat, saya jadikan tumpukan sampah emosi yang entah pada saat kapan akan meledak. Alhamdulillahnya, Allah pertemukan saya dengan forum yang berusaha sama-sama membersihkan sampah masa lalu. 

Saya bersyukur sekali dapat mengambil bulir-bulir pesan dari-Nya lewat kejadian itu. Hadiah terindah dari-Nya saat saya benar-benar bisa menyadari bahwa tiada lain saya bergantung dan berharap selain kepada-Nya. Berharap pada manusia suatu saat pasti berpotensi kecewa, tapi tidak jika kita hanya berharap kepada-Nya.

Saat saya tilik lagi, harusnya sejak kejadian itu saya bisa memaafkan dan menerima, bukan memandamnya hingga bertahun-tahun. Apabila saya kembali ke masa itu, ingin saya memulai yang meminta maaf terlebih dahulu, meminta klarifikasi mengapa sahabat saya pergi, mengapa teror itu terjadi, sehingga tak ada pikiran negatif tentang sahabat saya tersebut, pun tak ada beban yang saya pendam bertahun-tahun. Namun mungkin karena ego saya saat itu juga dan kesal terhadap apa yang ada, maka saya khilaf dan luput untuk meminta maaf terlebih dahulu.

Alhamdulillahnya, sekarang bisa melepas luka itu, kembali pada jalan-Nya yang penuh cerita. Mungkin tanpa kejadian itu, sayapun tak tersadar untuk terus menjadikannya gantungan harapan. Mungkin tanpa kejadian itu saya tak akan bisa lebih selektif bersahabat, dan mungkin tanpa kejadian itu saya tak akan "sekuat" yang sekarang (atas ijin-Nya).

Bagi sahabat semua yang mengalami hal yang sama, yang merasa dirinya terpuruk, yuk mari kita terima hal terpuruk itu, maafkan diri sendiri, dan syukuri apa yang terjadi, maka dengan itu hari-hari kita tak akan dibelenggu sampah negatif dalam diri. Susah memang dan berat dirasa, tapi bersama-Nya, kau akan ringan melangkah, dengan ijin-Nya in syaa Allah kita bisa menanggalkan keterpurukan itu. Ingat lagu Djenggot kan yang "tak ada ujian yang tak bisa di lalui karena Tuhan telah mengukur diri ini, lebih baik hadapi segala beban diri, hadapi dengan ikhlas di hati" ^^.

Tak ada keterpurukan yang tak bisa kita ambil pelajaran.. Semangat selalu hanya karena-Nya, serta gantungkan segala harap hanya kepada-Nya :)

*Kisah ini adalah salah satu tugas bahagia dari proses belajar saya di Sekolah Bidadari Surga :)
***
Puri Fikriyyah, 18 Agustus 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kelas Maryam SBS: Urgensi Pendidikan Pra Nikah untuk menjadi Istri Shalihah Dambaan

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, masih suasana 17an dan kita harus tetap belajar dan bertumbuh, iya kan? ^^ Melengkapi catatan kelas Maryam Sekolah Bidadri Surga, setelah seminar sesi 1 oleh mbak Amalia, sekarang dilanjut seminar sesi 2 oleh Ummu Balqis. Materinya tentang "Urgensi Pendidikan Pra Nikah untuk menjadi Istri Shalihah". Ketika agenda ini saya masih mengikuti kegiatan launching buku Youth Abroad, dan datangnya sudah sesi FGD seperti yang saya ceritakan sebelumnya, tapi alhamdulillah maish dapat ilmunya karena teh Annisa dan teh Rahma mau membagikan catatannya. Jazakillah teteh... :")

Yuk kita simak bersama materi dari Ummu Balqis, semoga memberikan manfaat dan mengisi ruang dalam jiwa kita dengan ilmu. 


"Berilmu Dahulu Samara Kemudian" 
đź‘Ş Percaya bahwa kita sudah memiliki jodoh dan tidak akan direbut oleh siapapun. Menikah sebagai Mitsaqan Ghaliza yaitu perjanjian yang amat sangat kokoh. Mitsaqan Ghaliza ada 3 yaitu: 
1. Perjanjian orang yang menikah 
2. Perjanjian Allah dan Nabi 
3. Perjanjian Allah dan umatNya 

Jangan pernah mempermainkan pernikahan. Kematian pun tidak akan memisahkan. Karena akan bertemu kembali di Surga bersama. Keluarga besar akan bertemu kembali karena perjanjian ini sangat kokoh. Maka dari itu:
✔Jangan salah memilih pasangan 
✔Jangan tergesa gesa 
✔Jangan terbawa nafsu

Karena menikah bukan main-main jadi perlu disiapkan. Jangan menikah dengan ekspektasi, memulai persiapan pernikahan dengan obsesi. Obsesi ingin memiliki suami hafidz berarti diri kita perlu menuju hafidzah. Padankan preparation dengan target kita. Terobsesi menyamakan diri kita dengan keinginan siapa suami kita. 

Jangan persiapkan pernikahan dengan ekspektasi. Data kawin cerai salah satunya akibat kurang persiapan. Jangan sampai tersiksa di rumah tangga karena bisa jadi KDRT, bagian dari kesalahan perempuan juga. 

Kewajiban Istri itu diantaranya: 
1. Taat pada suami 
2. Menyenangkan hati suami 

Maka persiapan yang perlu dilakukan adalah terkait:
1. Mental : kita harus yakin jodoh kita ada di depan kita.. (Mudahkan aku ya Allah dalam menjemputnya) 
2. Ilmu : untuk mempermudah kewajiban seorang istri terkait ke suami, anak, dan keluarga besar. 
3. Fisik : tentang kebersihan diri, bersih, harum, jangan mager olahraga 
4. Finansial : pintar mengatur finansial, yang penting adalah cukup. 
5. Sosial : karena ada lingkungan keluarga baru maka harus menerima lingkungan baru. Jangan sampai kita tidak nyaman karena kita tidak pandai beradaptasi dengan lingkungan baru. Libatkan suami dan bersikap bijak jika ada masalah dengan keluarga suami. 

Rumus jodoh itu : 
1. Bagaimana kita mengimbangi perbedaan satu sama lain. 
2. Jodoh itu sudah ada, siapanya dan kapan nya. Tidak akan dipercepat dan diperlambat, mau cara yg baik atau yg tidak baik. Namun rasa berkahnya berbeda.

Terakhir, jangan pernah lelah mengupayakan jodoh dengan cara yg baik. Jangan pernah paksakan dengan cara haram karena Allah tidak suka. Niatkan menikah untuk ibadah, sebab menikah merupakan titik awal generasi sehingga persiapkan untuk membangun peradaban.

Alhamdulillah, itulah ilmu dari Ummu Balqis, semoga Allah lindungi kita dari menjemput jodoh yang tidak dalam ridho-Nya, semoga senantiasa dijaga dan jodoh kita Allah jaga pula. Semoga kita sabar ya dalam menanti jodoh kita, semoga ridho-Nya senantiasa teriring agar rumah tangga kita nantinya berbuah Surga :")

*Jaga dirimu baik-baik di jalan-Nya ya Mas, yang saya belum tau namamu siapa dan dimana...eh :D
***
Puri Fikriyyah, 17 Agustus 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi

Kelas Maryam SBS : Agar Bidadari Surga Cemburu Padamu

| 0
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, masih bisa menuliskan mengenai kelas Maryam Sekolah Bidadari Surga. Nah jadi sebelum agenda FGD dan presentasi ada 2 materi dalam seminar pra nikah. Materi pertama adalah dari mbak Amalia Dian Ramadhini, yang saya kenal dari beliau adalah beliau owner @jilbabwalimah . Alhamdulillah dulu saat di FIM angkatan 15 tahun 2013, salah satu pematerinya adalah beliau dan suami mengenai kisah awal pertemuan mereka dan rumah tangganya. Pada kesempatan kelas Maryam ini beliau menyampaikan mengenai "Agar Bidadari Surga Cemburu Padamu". Sebab saya tak ikut, saya tidak bisa mendengar pemaparannya langsung, tapi alhamdulillah salah satu siswa SBS, teh Annisa Indriani (ketua angkatan kami) membagikan catatannya. Yuk kita simak bersama catatannya. 

đź’•Jilbab yg kita pakai adalah cara untuk menyeleksi jodoh kita.
đź’•Ciri-ciri Bidadari Surga
1. Menundukkan pandangan 
2. Tidak tersentuh makhluk sebelum suaminya ( Ar-Rahman : 55-58) 
3. Baik akhlaknya ( Ar-Rahman : 70) 
4. Menjaga kehormatan diri, tidak ada hasad di dalam surga, tidak ada saling benci dan permusuhan 
đź’•Terima kondisi diri apa adanya. 
đź’•Bangun komunikasi dengan orang tua. 
đź’•Menikah ibadah paling panjang, jangan salah pilih pasangan. 
đź’•4 perkara yang termasuk sunnah Rasul: memakai wewangian, sifat malu, bersiwak, dan menikah. 
đź’•Kenikmatan saat "berbuka puasa" kelak akan berbeda kenikmatannya dengan orang yang berbuka dahulu sebelum waktunya. 
đź’•Peranan wanita di rumah: 
1. Madrasatul ula 
2. Anfa'uhum linnas (bermanfaat bagi sesama) 
3. Mengajak kepada fii dunya hasanah wa fil akhirati hasanah

Alhamdulillah ya, catatan teh Annisa ringkas namun bisa dipahami, yuk mangga kalau masih ada yang mau diskusi bisa kita diskusikan di ruang komentar. Terima kasih sahabat semua, semoga catatan ini bermanfaat ^^
***
Puri Fikriyyah, 17 Agustus 2017
Vita Ayu Kusuma Dewi